Rabu 12 Agustus 2026 - 22:53
Sirah Rasulullah Saww Teladan Sempurna untuk Kelola Konflik Sosial

Hawzah/ Kepala Bagian Dakwah dan Urusan Budaya Hawza Ilmiyah Azerbaijan Timur menyebut sirah perilaku Rasulullah Saww sebagai teladan sempurna untuk mengelola konflik sosial.

Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Zaker Qasemzadeh, Kepala Bagian Dakwah dan Urusan Budaya Hawza Ilmiyah Azerbaijan Timur, dalam wawancaranya dengan Kantor Berita Hawza di Tabriz, di samping menjelaskan berbagai dimensi peradaban dari sirah kenabian yang multidimensional, menyatakan bahwa kembali kepada ajaran-ajaran otentik dari madrasah Islam ini adalah satu-satunya jalan keluar dari krisis-krisis moral, manajerial, dan sosial di era saat ini. Beliau juga menekankan perlunya perwujudan nilai-nilai seperti keadilan, hidup berdampingan secara damai, tanggung jawab, dan kesederhanaan di berbagai tingkat masyarakat dan pemerintahan.

Hujjatul Islam wal Muslimin, dalam menjelaskan ciri-ciri madrasah Islam yang membangun manusia, dengan merujuk pada diutusnya Nabi Agung Saww pada masa yang paling kelam dalam sejarah umat manusia, menyatakan: Misi Rasulullah Saww adalah titik balik yang menghancurkan tatanan yang didasarkan pada kebodohan, diskriminasi, dan kekerasan, serta membangun sistem baru yang berpusat pada tauhid, martabat manusia, dan keadilan; sebuah sistem di mana ketakwaan dan keutamaan moral menggantikan ukuran-ukuran palsu seperti kekayaan dan strata sosial.

Wakil Dakwah dan Urusan Kebudayaan Hawzah Ilmiyah Azerbaijan Timur menyebut sirah Rasulullah Saww sebagai teladan sempurna dalam pengelolaan konflik sosial, dan menambahkan: Penyusunan piagam-piagam madani serta terciptanya landasan bagi hidup berdampingan secara damai antara umat Islam dan penganut agama lain, termasuk Yahudi, di masyarakat Madinah yang baru terbentuk, menunjukkan kecerdasan luar biasa beliau dalam bidang kenegaraan. Sejalan dengan itu, kesederhanaan beliau yang menjauhi sikap ekstrem serta kebersamaan beliau dengan lapisan lemah masyarakat menyampaikan pesan jelas kepada para pemimpin bahwa dalam sistem pemerintahan Islam, tanggung jawab berarti pelayanan, bukan kesempatan untuk mencari keistimewaan khusus.

Beliau selanjutnya, dengan menekankan transformasi mendasar dalam kedudukan perempuan dalam ajaran Islam, mengingatkan: Di tengah maraknya tradisi keji mengubur hidup-hidup anak perempuan, Nabi Islam Saww dengan penghormatan yang tak tertandingi kepada Sayyidah Fatimah az-Zahra (as), memperkenalkan perempuan sebagai poros pendidikan dan pembentukan insan kepada seluruh umat. Di samping itu, beliau sebagai pengkritik paling tegas terhadap takhayul, senantiasa melangkah di jalur pemurnian agama dari bid'ah-bid'ah dan perilaku-perilaku jahiliyah.

Hujjatul Islam wal Muslimin Qasemzadeh menyoroti keterkaitan mendalam antara ekonomi dan akhlak dalam sirah kenabian, dan menegaskan: Ketenaran beliau dengan gelar "al-Amin" (yang terpercaya) sebelum dimulainya misi kenabian serta kecaman keras beliau terhadap kecurangan dalam takaran dan timbangan, menunjukkan bahwa pasar Islam harus menjadi cermin transparansi dan keadilan. Internalisasi sifat kejujuran ini dapat mengeringkan akar dari banyak korupsi ekonomi dan administratif saat ini.

Beliau menganggap penerapan hukum tanpa kompromi sebagai salah satu ciri cemerlang lainnya dari ajaran Nabi Muhammad Saww, dan dengan merujuk pada tindakan tegas Nabi Saww terhadap pencurian yang dilakukan oleh seorang wanita bangsawan Quraisy, beliau menyatakan: Dalam logika Nabi Saww, keadilan adalah garis merah yang tidak mentolerir intervensi dan diskriminasi apa pun. Juga dalam ranah manajemen makro, prinsip-prinsip seperti meritokrasi, musyawarah, dan akuntabilitas yang berkelanjutan terhadap opini publik, merupakan fondasi yang tak tergantikan dari manajemen kenabian.

Hujjatul Islam wal Muslimin Qasemzadeh, dengan mengutuk kelompok-kelompok takfiri yang mengampanyekan kekerasan atas nama agama, menggambarkan sirah Nabi Saww sebagai simbol nyata dari cinta damai dan toleransi, dan menambahkan: Penerimaan Perjanjian Hudaibiyah, serta perilaku mulia dan amnesti umum pada peristiwa Pembebasan Makkah, adalah bukti jelas bahwa perdamaian lebih diutamakan daripada perang dalam pemikiran Islam. Rahmat Nabi Muhammad Saww tidak hanya mencakup spektrum luas umat manusia, baik teman maupun musuh, tetapi juga alam dan hewan; oleh karena itu, tindakan kelompok-kelompok ekstremis bertentangan secara mutlak dengan kepribadian Nabi Saww yang bahkan menghormati jenazah seorang non-Muslim.

Wakil Pimpinan Hawzah Ilmiyah Provinsi tersebut menyebut menghidupkan kembali berbagai fungsi masjid sebagai pusat pendidikan, layanan hukum, dan konsultasi sebagai sesuatu yang penting. Ia menegaskan bahwa revolusi budaya yang dibawa Nabi Muhammad Saww dalam mewajibkan menuntut ilmu telah menjadi fondasi pembentukan peradaban. Seiring dengan peningkatan keilmuan tersebut, beliau melalui hadis-hadis seperti “كلكم راع و كلكم مسؤول” (Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab) menolak sikap tidak peduli serta menjelaskan bahwa tanggung jawab sosial merupakan kewajiban semua orang.

Pada akhir pernyataannya, Hujjatul Islam wal-Muslimin Qasemzadeh memperingatkan bahaya jahiliah modern, seperti ambisi kekuasaan dan materialisme. Ia menekankan perlunya kesatuan sikap antara Syiah dan Sunni, seraya mengatakan: “Saat ini masyarakat kita membutuhkan penyaringan ruang digital dari berbagai keburukan seperti ghibah dan fitnah, perhatian terhadap kesehatan jasmani dan rohani, serta penggambaran kembali secara kreatif tentang kepribadian luhur Nabi Muhammad Saww. bagi generasi muda; sebuah generasi yang semakin menunjukkan kecenderungan terhadap spiritualitas, yang menjadi harapan bagi terbentuknya masyarakat ideal di bawah naungan akhlak Nabi Muhammad Saww.”

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha